RANGKUMAN PENDIDIKAN ANAK DI SD MODUL 6 ( BUKU UT )

Posted: December 3, 2012 in Catatan Perkuliahan PGSD

RANGKUMAN PENDIDIKAN ANAK DI SD

MODUL 6

 TUGAS KELOMPOK

Untuk memenuhi tugas mata kuliah

Pendidikan Anak di SD

yang dibina oleh Bapak Drs. H. Zainuddin, M.Pd

 

 

Oleh :

Hendra Septian Dalimunthe

(F37010043)

Mausul

(F37010019)

Musyahadah

(F37010017)

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN PENDIDIKAN DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK

2012

Teori – teori Belajar dan Implikasinya dalam Pembelajaran

 Teori – teori belajar

1. TEORI BEHAVIORISTIK

 A. Tokoh – tokoh Behaviorisme

Tokoh – tokoh Behavioristik ini antara lain J.B Watson, Thorndike, Ivan Petrovich, dan B.F. Skinner.

 B. Konsep – konsep Teori Behavioristik

  • J.B Watson

J.B Watson ( 1875 – 1985 ) dengan teori stimulus responsnya memandang bahwa prilaku manusia sebagai hasil pembentukan melalui kondisi lingkungan. Perilaku individu dapat dibentuk sesuai dengan kehendak lingkungan.Tampaknya, lingkungan segalanya bagi Watson.pendidikanpun dianggap sebagai penmbentuk perilaku manusia. Bahkan J.B Watson, seasaat setelah menyelesaikan penelitian dengan bayi Albert , pernah melontarkan ucapan yang sangat bombastik beri aku bayi, selanjuttnya terserah dapat dibentuk mau jadi apa saja”. Watson berkeykinan bahwa manusia itu dibentuk bukan dilahirkan.

 

  • Thorndike

Thorndike ( 1874 – 1984 ) mencuatkan gema teori belajarny, yang tidak kalah gaungnya dengan teori Watson. Teori belajar Thorndike yang fundamental bahwa belajar lebih bersifat meningkat bertahap ( incremental ) ketimbang karena hadirnya insigh ( pemahaman ). Artinya, belajar terjadi melalui langkah – langkah kecil yang sistematis daripada sebuah lompatan yang besar.

 

  • Ivan Petrovich Pavlov

Ivan Petrovich Pavlov ( 1849 – 1936 ) Seorang bangsa Rusia mengemukakan teori conditioning-nya . Percobaan pengondisianya dilakukan kepada seekor anjing. Percobaannya terkenal dengan sebutan clasical conditioning. Dalam clasical conditioning, binatang yang bersangkutan tidak memiliki kontrol terhadap reinforcement serta respons yang dihasilkan. Reinforcement diberikan sebelum respons yang diharapkan terjadi untuk menghasilkan respons yang diinginkan.

 

  • Burrhus Frederick Skinner ( 1904 –1990 ),

ia terkenal dengan teori operand conditioning-nya. Menurut teorinya suatu respons seseorang dapat menjadi stimulus bagi orang itu. Misalnya, si A disuruh mengambil buku ke perpustakaan ( sebagai stimulus ), lalu pergilah ia keperpustakaan ( respons ). Bersamaan dengan mengambil buku ia pun mengambilkan buku yang pernah ia pinjam dari perpustakaan ( respons dari respons ). Jadi, mengambil buku menjadi stimulus bagi mengembalikan buku.

 Penerapan Teori behaviorisme dalam Pembelajaran di SD

Menurut teori ini, belajar akan menampakkan hasil yang dapat diamati dan diukur. Belajar itu sendiri dimodifikasi oleh lingkungan.

Proses belajar terjadi dengan adanya 3 komponen pokok, yaitu stimulus, respons, dana akibat. Stimulus adalah sesuatu yang datang dari lingkungan yang dapat membangkitkan respons individu.respons menimbulkan perilakujawaban atau stimulus. Sedangkan akibat adalah sesuatu yang terjadi setelah individu merespons baik yang bersifat baik maupun negatif.

Reinforcment ( penguatan ) menjdi prinsip utama dalam memperkuat lekatnya hasil belajar pada diri individu. Akibat yang positif dan memberikan kepuaasan pada diri individu akan  diperkuat oleh individu., tetapi yang tidak memberikan kepuasan akan dihindari, ini terjadi karena pada dasarnya manusia selalu mencari kesenangan. Akan tetapi, ketika memberikan penguatan harus diwaspadai apa yang disebut dengan tricky matter, yaitu proses pemberian penguatan yang keliru, tidak sesuai dengan tujuan utama penguatan itu sendiri.

 2. TEORI HUMANISME

1. Tokoh – tokoh  Humanisme

Tokoh – tokoh Humanisme ini antara lain Abraham Maslow dan Carl Roger.

2. konsep – konsep Teori Humanisme

  • Abraham Maslow

Menurut Maslow manusia merupakan makhluk yang tidak akan pernah puas dalam pencapaian sesuatu, kecuali hanya sesaat saja. Oleh karena itu manusia akan mencari peluang lain untuk menutupinya. Menurut Maslow, puncak pemenuhan kebutuhan yang sekaligus sebagai ukuran keberhasilan individu ialah berhasil dalam mengaktualisasikan diri dalam dunianya.

  • Carl Roger

Carl Roger memandang manusia sebagai makhluk yang rasional, sosialis, ingin maju dan realistis. Baginya manusia merupakan makhluk yang memiliki potensi untuk tumbuh dan aktual sehingga memiliki martabat yang tinggi. Intinya, Roger menempatkan manusia secara manusiawi dalam martabat kemanusiaannya.

 Penerapan Teori Humanisme dalam Pembelajaran di SD

Menurut teori ini, proses belajar yang bermakna adalah belajar byang melibarkan pengalaman langsung, berpikir dan merasakan, artas kehendak sendiri dan melibatkan seluruh peribadi peserta didik. Hasil belajar harus dirasakan oleh peserta individu. Ia menyadari terjadinya hasil belajar bahkan mampu menilainya. Belajar yang bermakna tidak lain hanyalah belajar yang dapat memenuhikebutuhan nyata individu.

Menurut teori ini , salah satu karakteristk yang harus ada pada diri guru/ pendidik ialah kemampuan memotifasi belajar peserta didiknya. Selain itu guru harus memiliki sifat empati, terbuka, keaslian, kongkretan, dan kehangatan.

Sikap empati merujuk kepada sikap guru yang mau memposisikan dirinya kepada kerangka berpikir peserta didik sehingga guru dapat merasakan apa yang peserta didik yang rasakan dan alami. Keterbukaan merujuk pada kemampuan guru untuk membuka diri, siap diritik, siap dinilai dan siap diberi pujian. Keaslian merujuk kepada penampilan apa adanya dan tidak dibuat – buat. Kekonkretan merujuk pada kejelasan dalam menyatakan sesuatu, memberikan tanggung jawab sesuai dengan kemampuan peserta didik dan realistis. Kehangatan merujuk kepada jalinan komunikasi yang secara psikologis terasa nyaman dan aman bagi peserta didik disertai ketulusan dalammemberikan pelayanan pendidikan.

E. TEORI BELAJAR BERMAKNA

David Ausubel mengklasifikasikan belajar dalam 2 dimensi :

  • Dimensi pertama,  menyangkut cara materi atau informasi diterima peserta didik. Dilihat dari dimensi ini, peserta didik memperoleh materi atau informasi melalui penerimaan dan penemuan. Artinya, peserta didik dapat mengasimilasi informasi atau mata pelajaran secara penerimaan dan penemuan.
  • Dimensi kedua, menyangkut cara bagaimana peserta didik dapat mengaitkan informasi atau mata pelajaran dengan struktur kognitif yang telah ada.

Jika peserta didik hanya mencoba-coba menghafalkan informasi atau mata pelajaran baru tanpa menghubungkannya dengan konsep-konsep atau hal lainnya yang ada dalam struktur kognitifnya maka terjadilah yang disebut dengan belajar hafalan. Sebaliknya, jika peserta didik menghubungkan informasi atau mata pelajaran baru dengan konsep-konsep atau hal lainnya yang telah ada dalam struktur kognitifnya maka terjadilah yang disebut dengan belajar bermakna.

1.    Belajar bermakna

Inti teori belajar dari Ausubel ialah belajar bermakna. Menurutnya, belajar bermakna merupakan proses mengaitkan informasi atau materi baru dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. Dalam belajar bermakna informasi atau mata pembelajaran baru diasimilasikan pada subsumer-subsumer yang relevan dengan struktur kognitif. Akibat dari pemaknaan itu,  subsumer-subsumer tersebut berkembang. Perkembangan subsumer tersebut sangat bergantung kepada kejadian-kejadian pengalaman seseorang. Misalnya, siswa x yang duduk di kelas 1 SD belajar tentang penjumlahan bilangan belasan. Kemampuan penjumlahan bilangan tersebut akan lebih bermakna jika siswa tersebut sudah paham konsep penjumlahan angka satuan. Konsep penjumlahan angka belasan sebagai informasi baru akan dikaitkan dengan konsep penjumlahan angka satuan yang telah ada pada struktur kognitifnya. Dalam contoh ini, konsep penjumlahan angka satuan yang disebut dengan subsumer.

Menurut Ausubel (1963), kebermaknaan suatu pembelajaran sangat depengaruhi  oleh sedikitnya 3 faktor , yaitu struktur kognitif  yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang  studi tertentu dan pada waktu tertentu. Semantara itu, Dahar (1996:116) mengemukakan dua prasyarat terjadinya belajar bermakna, yaitu materi yang akan dipelajari  harus bermakna secara potensial, dan anak yang akan belajar harus bertujuan belajar bermakna.

Kebermaknaan potensial materi pelajaran bergantung kepada 2 faktor, yaitu materi itu harus memiliki kebermaknaan logis, dan gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif peserta didik (Dahar, 1996:116).

2.    Belajar hafalan

Belajar hafalan dapat terjadi jika dalam struktur kognitif peserta didik belum ada konsep-konsep (subsumer) yang relevan dengan informasi atau materi pembelajaran baru. Dengan belajar hafalan, tidak terjadi  proses asimilasi informasi atau materi pembelajaran baru.

Belajar menjadi  tidak bermakna jika situasi pembelajaran menuntut peserta didik untuk menghafal meskipun pada struktur kognitifnya ada subsumer yang relevan. Misalnya, guru x mengajarkan tentang  ciri-ciri makhluk hidup (informasi baru) kepada peserta didik yang telah memahami  konsep makhluk hidup (subsumer). Jika guru tersebut mengajarkannya agar  peserta didik hanya menyebutkan ciri-ciri makhluk hidup tersebut dan bukan mengaitkan ciri-ciri makhluk hidup pada konsep makhluk hidup maka proses yang terjadi pada belajarnya peserta didik tersebut menjadi tidak bermakna lagi.

 

IMPLIKASI TEORI BELAJAR  BERMAKNA DARI  AUSUBEL DALAM PEMBELAJARAN

Bagaimana Ausubel menerapkan teori belajarnya dalam proses pembelajaran ? Berikut contoh penerapan teori belajar bermakna dalam pmbelajaran di SD :

Pada suatu hari Bu Pulan mengajarkan materi pembelajaran tentang ciri-ciri makhluk hidup. Sebelum sampai kepada pokok bahasan tersebut, Bu Pulan mengulas dahulu konsep makhluk hidup yang telah dikenal peserta didiknya. “Anak-anak yang ibu cintai, hari ini kita akan mendiskusikan tentang ciri-ciri makhluk hidup. Anak-anak apakah kucing termasuk makhluk hidup?”  Peserta didiknya menjawab serempak : “Ya…Bu…!” . “Mengapa disebut makhluk hidup?” , kata Bu Pulan.

Peserta didik 1            : “Karena kucing itu dapat berjalan.”

Peserta didik 2            : “Karena suka makan ikan.”

Bu Pulan         : “Bagus jawabannya, kalau bunga yang tumbuh di halaman itu juga

                                        makhluk hidup? Bunga kan tidak dapat berjalan?”

            Perserta didik  : “Bunga itu pun termasuk makhluk hidup, Bu. Sebab bunga tersebut

                            kan tumbuh dari kecil, dan sekarang sudah berbunga.”

 

Mengapa Bu Pulan mempertanyakan dahulu hal tersebut kepada peserta didiknya. Dimana letak kesesuaian dengan teori belajar dari Ausubel ? Kalau Anda kaji secara cermat maka terlihat bahwa Bu Pulan sedang berupaya mengaitkan materi ciri-ciri mahkluk hidup dengan konsep mahkluk hidup. Dalam implikasi teori Ausubel yang diperagakan Bu Pulan merupakan salah satu contoh penerapan konsep Advance Organizer dalam proses pembelajaran versi Ausubel.    

Dalam penerapan teorinya pada proses pembelajaran , Ausubel  mengajukan beberapa implikasi, yaitu advance organizer, diferensiasi progresif, belajar superordinat, dan penyesuaian integratif.

Dalam mendukung pendapat Ausubel tersebut, Novak (1985) mengajukan penerapan peta konsep dalam suatu proses pembelajaran dengan tujuan agar lebih bermakna. Untuk mendalami beberapa implikasi  teori belajar Ausubel tersebut,  dapat dipelajari bagian-bagian pemaparan berikut ini :

1.    Advance Organizer

Advance Organizer diartikan sebagai  pengatur awal (Dahar, 1996) dan mempersiapkan pengetahuan siap (Abin Syamsuddin, 1999). Intinya merupakan proses penggalian pengalaman masa lalu yang sudah ada dalam struktur kognitif peserta didik yang relevan dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan. Oleh karena itu, advance organizer tersebut suka dianggap semacam pertolongan mental, yang disampaikan sebelum materi  pokok pembelajaran dibahas.

Perlu diingat bahwa  advance organizer akan sulit diterapkan untuk materi-materi yang tidak teratur dan akan lebih mudah digunakan jika struktur suatu materi  pembelajaran  sudah jelas strukturnya tetapi peserta didik belum mengetahui  betul sturktur tersebut.

Berikut contoh pengembangan advance organizer ;

Konsep                                    : Fungsi matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Advance organizer                  : Peserta didikmembaca paragraf berikut ini.

 Andi membeli 3 buah buku. Satu buku harganya Rp.200,00.    

 Andi memberikan uang seribu rupiah untuk membayar ketiga  

 buku tersebut.  Pedagang  buku memberikan uang    

 kembaliannya hanya Rp.150,00. Oleh karena Andi tidak dapat

 menjumlahkan uang ratusan maka ia terima uang itu tanpa 

 meminta kembali sisanya. Setelah di rumah Andi dimarahi   

 kakaknya karena seharusnya uang kembalian itu sebanyak  

 Rp.400,00.

Kegiatan Pembelajaran           : Peserta didik membaca tentang fungsi matematika secara    

                                                  lengkap.

 2.    Diferensiasi Progresif

Dalam  konsep belajar bermakna menurut Ausubel  dipandang perlu terjadinya pengembangan dan elaborasi  konsep-konsep yang tersubsumsi. Caranya dengan mengembangkan konsep-konsep yang lebih umum terlebih dahulu, selanjutnya diberikan konsep-konsep yang lebig mendetail dan khusus sampai kepada contoh-contoh. Dengan demikian, konsep-konsep tersebut dikembangkan dari umum ke khusus. Penyusunan konsep seperti ini, disebut dengan istilah diferensiasi progresif. Oleh sebab itu, suatu konsep yang diajarkan perlu disusun secara hierarkis.

 3.    Belajar Superordinat

Belajar Superordinat terjadi bila konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya dikenal sebagai unsur-unsur dari suatu konsep yang lebih luas, lebih inklusif (Dahar, 1996). Misalnya, ketika anak kecil belajar mengenal kucing, awalnya semua kucing sama. Tetapi setelah dipelajari lebih jauh maka ia mulai membedakannya dengan kucing betina, jantan dan sebagainya. Lalu, ia juga belajar dari unsur keberbuluan maka muncullah kelompok binatang berbulu seperti kucing, sapi, anjing. Setelah mempelajari konsep binatang menyusui atau mamalia mka kucing, sapi, anjing termasuk kelompok binatang mamalia. Di situ tampaklah bahwa mamalia sebagai superordinat dan kucing,  anjing juga sapi sebagai  subordinat.

 4.    Penyesuaian Integratif

Terkadang anak dihadapkan kepada permasalahan dwifungsi suatu konsep dan dengan kenyataan ini mereka mengalami semacam pertentangan kognitif. Misalnya, penggunaan kata bisa yang berarti dapat/mampu dan arti lainnya, yaitu racun. Pertentangan seperti itu, umumnya membuat anak bertanya kapan saya harus mengatakan “bisa” yang berarti dapat dan kapan saya harus mengatakan “bisa” yang berarti racun.  Menurut  Ausubel  untuk mengatasi atau mengurangi pertentangan kognitif seperti itulah pentingnya penggunaan prinsip-prinsip penyesuaian integratif yang sering disebut dengan istilah rekonsiliasi integratif.

Ausubel berpendapat bahwa suatu pembelajaran yang bermakna tidak harus selalu terjadi secara diferensiasi progresif, tetapi harus terjadi upaya penggerakan kerangka hierarkis konseptual ke atas dan ke bawah. Artinya perlu diperlihatkan keterkaitan antara konsep-konsep umum dengan konsep-konsep  khusus. Selain itu perlu jelas pula konteks dan rentetan penggunaan kata yang telah melebar maknanya atau kasus makna dwifungsi dan sebagainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s